WELCOME TO MY BLOG'S---"FRANSISKUS ANDUT PANGALAYO-" ---SEMOGA BISA BERMANFAAT BUAT PEMBACA ---SEPUTAR MENJALIN ONLINE---
Showing posts with label Adat Dayak. Show all posts
Showing posts with label Adat Dayak. Show all posts

Friday, February 19, 2016

Macam-macam bentuk Kalimat Tanya "Bahasa Dayak Kanayat'n"

Ampusa Ka Mae?   (Mau Pergi Kemana?)
Ahe nang kao ngago? (Apa yang Kamu Cari?)
Dimae Kao Badiapm?    (Dimana Kamu Tinggal) menanyakan alamat tinggal
Sae namanyu (Siapa Namamu)
Ngahe kao bai nelenya (Kenapa kamu tidak mau melihatnya)
Sangahe agi duitnyu (Berapa lagi uang mu )

Tuesday, February 7, 2012

Sekilas Mengenai Pabayo

Bambu yang di raut "PABAYO"

Pabayo  merupakan salah satu bahan pelengkap untuk upacara adat bagi suku dayak di pulau Kalimantan, Khususnya Kalimantan Barat Orang dayak biasanya meggunakan  pabayo ketika di suatu kampung atau tempat tinggal mereka sedang berlangsung pesta adat atau gawai. Menurut kepercayaan suku Dayak Kanayat’n, adat istiadat pabayo diturunkan dari tradisi Ne Baruakng Kulub. Pabayo merupakan lambang adat dayak yang memberikan arti kesuburan dan kesejahteraan. Pabayo terbuat dari beberapa ruas bambu yang diraut dengan tehnik tertentu sehingga kelihatan lebih indah. Pabayo digunakan orang dayak  sebagai perlengkapan adat. Tahapan dalam membuat pabayo yang pertama yaitu pilih dahulu bambu yang akan kita jadikan pabayo dan biasanya bambu yang lebih tua dan tidak bisa sembarang bambu yang kita pakai. setelah itu bambu tersebut dijemur supaya nantinya dapat diraut dengan mudah. Tidak banyak orang yang bisa membuat pabayo, hanya orang-orang tertenu saja dan sudah mahir yang dapat membuat pabayo.
Dalam meraut pabayo, biasanya ada 3-5 ruas dari sebatang bambu yang di pakai yang paling tinggi biasanya 7 ruas dan jumlahnya harus ganjil. Pabayo balungkur adalah rautan pabayo yang paling besar yang tingginya mencapai 7 rautan atau 7 tingkatan.

Hanya ini sekilas mengenai Pabayo yang Penulis ketahui, mungkin kurang lebihnya penulis minta maaf.mudah-mudahan di kesempatan berikutnya segala pertanyaan-pertanyaan dari pembaca yang budiman dapat penulis jawab. 

Saturday, January 21, 2012

FUNGSI MUSIK DAYAK DALAM UPACARA PERDUKUNAN (BALIATN)

Fungsi pada dasarnya adalah sistem yang saling berkaitan antara unsur-unsur pembentuknya. Istilah sistem (systema, dalam bahasa Yunani) bisa berarti entitas atau alat analisis.Suatu sistem merupakan entitas yang tersusun dari berbagai unsur, unit, komponen secara integral atau teratur untuk menjaga keseimbangan sistem itu sendiri. Sistem merupakan keseluruhan perangkat yang tersusun dari sekian banyak bagian dan berfungsi secara timbal balik. Ia saling memberi dan menerima guna memelihara dan mendukung suatu keseimbangan. Relasi yang terjadi diantara komponen dalam sistem umumnya bersifat teratur dan berkesinambungan”.1.

Wednesday, June 8, 2011

Adat Melahirkan Suku Dayak Kanayat'n

2.     Adat Melahirkan

1)      Ba Saru Sumangat
Setelah tiga (3) malam habis melahirkan biasanya diadakan ritual baasaru sumangat.yang di maksud dengan basaru sumangat adalah bersyukur kepada Jubata (Tuhan) atas keselamatan dalam melahirkan. Karena melahirkan bukanlah sesuatu yang mudah. Maka dari itu kita patut mensyukuri atas keselamatan yang telah Jubata (Tuhan) berikan kepada kita. Adapun adat istiadat dalam ba saru sumangat adalah sebagai berikut:
Adat istiadat basaru sumangat
*      Baras Banyu.
*      Baras Sasah.
*      Langir minyak (Minyak yang diambil dari buah langir)
*      Tumpi Po’e
*      Ayam 3 ekor.
*      Telur ayam 1 buah.
*      Pinang karake.
*      Kobet 3 buah.
Kemudian bahan-bahan tersebut di sangahat’n (didoakan secara adat) oleh orang yang dianggap sudah bisa mendoakan secara adat atau sering disebut Panyangahat’n.

3.     Ba Talah (Adat memberi nama)

Yang dimaksud dengan batalah adalah memberi nama pada seseorang bayi yang baru lahir. Biasanya batalah diadakan 40 hari setelah bayi lahir.
Adat Istiadat Batalah :
*      Baras Banyu.
*      Baras sasah.
*      Langir binyak.
*      Tumpi po’e.
*      Ayam 7 ekor.
*      Telur ayam 2 buah.
*      Pinang.
*      Karake.
*      Kobet 7 buah (Lengkap komoh).
*      Tanung (Anak ayam 1 ekor).
*      Alat / barang (pinang dibelah dua).
*      Palantaran.
*      Kemudian bahan-bahan tersbut disangahat’n.

4.     Babalak dan Batenek (Adat sunat dan memasang Anting)

Babalak / batenek adalah bersunat bagi anak laki-laki , sedangkan batenek adalah memasang anting –anting yang di pertamakan pada telinga seorang anak perempuan.
Adat Istiadat babalak/batenek :
*      Baras banyu.
*      Baras Sasah.
*      Langir binyak.
*      Tumpi Po’e.
*      Ayam 3 ekor.
*      Telur ayam 4 buah.
*      Babi 1 ekor.
*      Kobet 7 buah.
*      ( 1 ekor ayam ) untuk berendam bagi yang disunat.
*      Tumpang 3 buah.
*      Palantarat’n ( biasanya berupa uang logam,jarum dan Paku).
*      Gong.
*      Tukang balak ( Tukang Sunat).
*      Panyangahat’n.

Thursday, May 19, 2011

Adat Kaidupan Bunting (Hamil) pada suku Dayak Kanayat'n

Menurut adat kepercayaan suku Dayak Kanayat’n asal usul bunting (kehamilan) diturunkan dari Ne’ Pangira dan 7 saudaranya yaitu:
  1. Ne’ Petantang atau pengarang yaitu ngarang atau merencanakan apa yang mau dibentuk dari bayi yang dikandung tersebut.
  2. Ne’ petampa yaitu membentuk jenis kelamin dari bayi yang dikandung.
  3. Ne’ Haming yaitu ngalalo (memperkuat)yang mau dibikin.
  4. Ne’ Bikang yaitu menggatur pertumbuhan bayi yang sudah terbentuk.
  5. Ne’ Pajaji yaitu mengatur segala pertumbuhan bayi yang sudah jadi baik pertumbuhan organ tubuh,tangan,kaki dan bagian-bagian yang lainnya.
  6. Ne’ Ukur yaitu memberi atau menganugrahkan sifat-sifat pada bayi,mengukur masa hidup kita di dunia dan menjemput ajal kita.
  7. Ne’ Timang yaitu menimang atau mengasuh bayi dalam kandungan sang ibu selama 9 bulan 10 hari. Ketika seorang ibu mau melahirkan masyarakat Dayak Kanayat’n percaya bahwa Ne’ Timang akan datang membantu persalinan tersebut. Selain itu raja Pakang (Kodok besar yang habitatnya dilembah-lembah pegunungan dan tinggal dibebatuan) juga akan datang membantu. Raja pakang akan mengantungkan tali tarap dengan tujuan supaya yang melahirkan dapat bertahan selama persalinan. Sesudah lahir Bitil anak yang jadi bidan dalam persalinan tersebut akan mengambil Sembilu buluh kemudian dicuci. Sembilu digunakan untuk memotong tali pusat. Kemudian benang yang ambil dari serat daun nenas untuk menjahit bekas luka.

Friday, May 6, 2011

TRADISI YANG TERLUPAKAN

Indonesia merupakan Negara yang beraneka ragam budaya, ras, suku dan bahasa serta adat dan tradisi yang telah ada sebelum bangsa ini merdeka. Tradisi-tradisi tersebut merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh nenek moyang kita pada zaman daulu. Setiap daerah di indonesia tentunya memiliki keaneka ragaman budaya yang khas dan memiliki nilai filosopi masing-masing menurut pandangan dan kepercayaan mereka.
Namun seiring berkembangnya zaman banyak nilai-nilai kebudayaan tersebut menjadi kabur dan bahkan hilang sama sekali. Dahulu sehabis panen padi kita sebagai masyarakat adat selalu mengadakan syukuran atas hasil panen tersebut atau sering di sebut gawai. Namun sekarang banyak masyarakat yang tidak lagi melaksanakan tradisi itu karena mungkin di anggap kuno atau sudah basi. Selain itu dampak perkembangan zaman tersebut juga sangat berpengaruh pada pola pikir masyarakat yang sudah tidak mempercayai lagi adat istiadatnya. Dahulu ketika kita mengadakan gawai biasanya kita disuguhkan kesenian jonggan. Namun sekarang sangat jarang orang-orang yang menjadikan kesenian itu sebagai sarana hiburan bagi masyarakat.
BERSAMBUNG

Tuesday, November 23, 2010

Falsafah Dayak Kanayat'n

ADIL KA’ TALINO, BACURAMIN
KA’ SURGA, BASENGAT KA’ JUBATA

(Falsafah Dayak Kanayatn)

Suku Dayak adalah salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia. Suku Dayak adalah penghuni asli pulau Kalimantan dan termasuk dalam rumpun bangsa Austronesia yang berimigrasi ke Asia Tenggara antara 2500 Sm-1500 Sm. Dayak bukan merupakan suku tunggal, tetapi terdiri atas sub-sub suku. Salah satunya adalah suku DAYAK KANAYATN. Suku Dayak Kanayatn mempunyai banyak falsafah hidup salah satu di antaranya adalah
“ADIL KA’ TALINO, BACURAMIN KA’ SARUGA, BASENGAT KA’ JUBATA.

Kata “Adil” merupakan kata kerja yang berarti memberi apa yang menjadi hak orang lain, “ka’ Talino” merupakan obyek yang menjadi sasaran dari kata adil yang berarti ke sesama yang masih hidup di dunia ini, “Bacuramin” kata kerja yang mempunyai makna orientasi ke depan yang dapa diartikan bercermin, “ka’ Saruga” kata benda yang menjadi tempat tujuan yang berarti ke surga, sedangkan “basengat” berarti bernafas, dan “ka’ Jubata” berarti kepada Tuhan (Sang Pencipta).

Dari pengertian etimologis ini dapat ditarik kesimpulan yang merangkum makna secara keseluruhan yaitu bahwa berbuat adil terhadap sesama di dalam dunia perziarahan ini merupakan kewajiban yang mutlak. Surga bukan digambarkan sebagai tempat melainkan lebih dari itu yakni sebagai suasana hidup berdampingan dengan Allah yang penuh dengan kedamaian abadi. Kehidupan di Surga merupakan imbalan atas kesuksesan kita menjalin relasi dengan sesama khususnya dalam perbuatan adil.
Menjadi soal adalah kepada siapa manusia harus berbuat adil? Sasaran keadilan dalam konsep Dayak Kanayatn adalah sesama-sesama manusia. Manusia hidup dalam dua kategori yaitu orang kaya dan miskin. Masing-masing kategori ini mempunyai hak. Perbuatan adil yang harus dilakukan adalah memberi sesuai dengan hak mereka.
Konsep keadilan yang dimiliki oleh Dayak Kanayatn juga terdapat di dalam Kitab Suci. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku, ( Mat 25:35-40).

Teks ini menggambarkan sebuah keadilan yang harus dilakukan sebagai umat kristiani. Maisng-masing manusia dalam relitasnya memiliki hak yang harus mereka terima. Penerimaan hak ini juga bergantung pada orang yang melaksanakan kewajiban. Hak dan kewajiban merupakan dua kutub yang saling melengkapi. Manusia diciptakan tidak dapat dipisahkan dari hak dan kewajiban. Hak dan kewajiban membuat manusia hidup saling ketergantungan. Inilah dimensi sosial manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
Manusia hidup di dunia ini hanya bersifat sementara, sedangkan hidup dan mati Tuhan yang menentukan. “Jubata” atau “Tuhan” merupakan Sang Pencipta. Sedangkan manusia hanya salah satu dari ciptaan. Suatu saat manusia akan kembali kepada penciptanya. Konsep ini tersirat dalam “basengat ka’ Jubata” bahwa kehidupan itu berasal dari Tuhan. Surga merupakan tempat yang akan dihuni oleh manusia yang telah banyak berbuat baik (adil) terhadap sesamanya. Di Surga manusia hidup berdampingan dengan Sang penciptanya dalam suasana kehidupan yang penuh kedamaian, kebahagiaan ketenteraman sejati dan keadilan.
Kehidupan religiusitas Dayak Kanayatn tercermin dalam kesetiaan melaksanakan tradisi yang diwariskan oleh para leluhur. Tradisi yang paling mulia dan sangat dijunjung tinggi adalah berbuat baik (keadilan) kepada orang lain sebagai hak yang harus dia terima. Perbuatan ini bukan semata-mata untuk mencari popularitas diri, lebih dari itu adalah untuk memperoleh kehidupan dan kebahagiaan bersama “Jubata” di akhirat.

Saturday, June 12, 2010

ADAT ISTIADAT DAYAK KANAYAT’N

1.ADAT PAMABANG

Adat pamabakng merupakan sebuah proses pembentengan diri secara pribady maupun komunitas dari hal-hal yang bersifat mengancam. Bagi orang Dayak, adat pamabakng sangat dihormati, sehingga seganas apapun pikiran, sekuat apapun niat untuk melakukan tindakan anarkhis, biasanya diurungkan apabila melihat pamabakng telah terpasang

Adat pamabakng, dengan alat paraganya sebagai berikut :

- 1 buah tempayan jampa diletakkan di atas jarungkakng bambu kuning ditutup pahar dengan posisi telungkup.

- Kemudian ada palantar di taruh di atas talam lengkap dengan topokng ( tempat sirih ) dan beras beserta alat-alat palantar lainnya lengkap dengan ayam 1 ekor sedapatnya berwarna putih, tidak berwarna merah.

- 1 buah bendera berwarana putih yang dipasang di dekat tempayan jampa.

- Kemudian di dekat tempayan jampa harus ada papangokng ( penggung kecil dari kayu ) untuk meletakkan palantar.

- Disekitar pamabakng terhampar bide untuk tempat duduk dan bermusyawarah dengan bala yang akan datang.

- Tempayan jampa melambangkan tubuh korban jika terjadi pada kasus pembunuhan, dan sebagai tanda pengakuan adat bagi pelaku.

- Ayam putih dan bendera putih sebagai simbol perdamaian.

- Baras banyu sebagai simbol pengampunan sekaligus untuk menenangkan hati yang sedang dilanda emosi.

- Topokng tempat sirih dipergunakan untuk menyapa bala yang datang.

Pamabankng harus ditunggu oleh timanggong, dan jika temenggung tidak ada/berhalangan, pamabakng di tunggu oleh pasirah atau oleh tua-tua adat yang dianggap mengerti tentang adat. Selain mengerti tentang adat orang yang menunggu pemabakng haruslah orang yang bijaksana dan biasanya pula harus orang yang punya ilmu dalam mengatasi kasus seperti itu misalnya mantra dan jampi-jampi yang di sebut sangga bunuh, bungkam, kata gampang, pelembut hati seperti pangasih dan lain-lain masksudnya agar saran serta nasehat dsb, yang dapat dipakai oleh pihak bala yang sedang emosi.
Apa bila keadaan yang sangat gawat dan rawan,pamabakng dapat di pasang lebih dari satu yaitu dipersimpangan jalan masuk dan di ujung pante ( pelataran ). Maksudnya adalah apabila pamabakng yang satu tetap dilanggar, masih ada lagi pamabakng lain yang terakhir. Pamabakng yang terakhir ini merupakan pertahanan terakhir sehinga apabila pamabakng terakhir inipun di langgar maka tidak ada alternatif lain selain harus mengadakan perlawanan, dan perang kelompok ahli warispun tidak dapat terelakan. Perbuatan ini dapat menyebabkan ririkngnya adat raga nyawa, artinya adat raga nyawa tidak dibayar. Namun sepanjang sejarah perjalanan adat hal seperti ini tidak pernah terjadi. Pada saat bala tiba di tempat pamabakng, segera penunggu pamabakng menyapanya dengan topokng sekaligus di persilakan duduk. Ia mulai membentangkan arti dan makna pamabakng bahwa pihak pelaku mengaku bersalah dan bersedia menyelasaikannya secara hukum adat. Biasanya setelah mendengar penjelasan itu pihak bala melampiaskan emosinya dengan menikamkan senjatnya ketanah di sertai dengan tangisan karena hatinya kesal tidak mendapat perlawanan.

Maka yang paling penting dari adat pamabakng ini adalah :

1. Jika pamabakng tidak di pasang, dapat diartikan :

a. Bahwa pihak pelaku menentang pihak ahli waris korban untuk berkelahi atau perang antar kelompok ahli waris.

b. Pihak pelaku tidak mau sama sekali membayar adat.

c. Pengurus adat seolah-olah membiarkan dan malahan menghasut kedua belah pihak untuk saling menyerang.

2. Jika pamabakng sudah terpasang dapat di artikan :

a. Kasus tersebut sudah di tangan pengurus adat

b. Pihak pelaku sudah mengakui kesalahannya dan besedia membayar hukuman adat.
Adat pamabakng adalah adat bahoatn artinya hanya untuk dipajang bukan untuk di bayarkan. Setelah bala datang mereka harus di “bore baras banyu” dan selanjutnya dilakukan persembahan kepada Jubata. Pamabakng tetap terpasang selama adat belum diselesaikan dan paling lama selama 3 hari.


Keterangan :

Bore baras banyu adalah : beras yang sudah di beri kunyit di oleskan di masing-masing kening orang-orang bersangkutan dan hadir saat itu.
Palantar adalah: seluruh peraga adat (sesajen) yang di letakan di mana kita akan melakukan ritual
Topokng adalah : sebuah tempat/wadah yang berisi rokok daun nipah dan tembakau serta ramuan untuk nyirih
Jarungkakng adalah : kayu atau bambu yang di tancapkan di tanah dengan bentuk silang tiga
Bahoatn artinya : mengasuh
Ririkng sama dengan impas


Sumber : Bahaudin Kay (tokoh adat Sengah Temila, Pahauman, 2005)